Dolanku.com - Banyak jalan menuju Makkah. Itulah contoh sebuah ungkapan yang mengandung banyak makna. Salah satunya, dalam menempuh perjalanan tertentu tak boleh menyempitkan pandangan serta hindari fanatik pada satu jalur lintasan.
Harus terbuka dan berpeluang menerima setiap alternatif yang ada. Setidaknya, tatkala memungkinkan diterapkan, sungguh patut dicoba walau hanya sekali seumur hidup. Biar tahu sensasinya sembari bilang "Oh, jadi begitu ya rasanya."
Nah, dalam konteks tulisan ini, kenapa sopir truk lebih memilih jalan pantai utara (pantura) ketimbang jalan tol, sebelumnya pastilah beberapa dari mereka pernah mencoba keduanya. Seenggaknya, dengan jarak tempuh pendek.
Lantas, sesudah membandingkan, akhirnya disimpulkan lebih mendingan pilih jalan pantura daripada jalan tol. Apalagi, sopir truk sudah amat menguasai karakter jalan di pantura. Diimbuhi, sekarang banyak jalan pantura yang berkualitas mulus.
Kendati diakui, cukup banyak juga sopir truk yang memilih lewat jalan tol. Baik itu yang full tanpa peduli kondisi lalu lintas di luar jalan tol maupun yang masuk jalan tol secara parsial. Di mana, baru pilih masuk tol ketika keadaan lalu lintas tak kondusif.
Berikut ini alasan sopir truk memutuskan sering melewati jalan pantura ketimbang jalan tol:
1. Uang Saku Tidak Mencukupi
Sistem penghasilan sopir truk antar kota dan antar provinsi umumnya berupa borongan. Artinya, pihak pemberi kerja mematok angka tertentu guna melakukan perjalanan dari titik awal ke titik akhir yang sudah ditetapkan. Seringnya, juga dituntut dengan target waktu.
Misalnya, uang saku sopir untuk perjalanan mengambil barang di gudang Kota A menuju gudang Kota B dipatok 5 juta. Angka itu sudah termasuk untuk semua biaya akomodasi seperti BBM, makan, minum, ongkos kernet, bayaran kuli bongkar muat, hingga penginapan.
Sisa dari pengeluaran operasional di atas, baru sebagai pendapatan bersih untuk sopir. Oleh sebab itu, jika sopir pintar dalam berhemat dengan mensiasati agar biaya perjalanan mampu ditekan maka pendapatan uang sopir jauh lebih besar.
Kalau sopir memaksakan masuk tol, berdampak besar peluang penghasilan duit sopir berkurang drastis. Bahkan, amat memungkinkan tak mencukupi untuk sampai ke lokasi yang dituju.
2. Exit Tol Jauh dari Tempat Transit maupun Lokasi Tujuan
Setiap sopir truk pasti punya tempat istirahat favorit. Di mana, rest area di jalan tol tak mampu menandinginya agar bisa menjadi pengganti. Sayangnya, lokasi rest area andalan sopir truk tersebut cukup jauh dari exit tol.
 |
Ilustrasi truk antar kota antar provinsi (sumber gambar pixabay.com) |
Ditambahi, salah satu hal yang dikeluhkan oleh para sopir truk yaitu harga kopi, jajan, dan makanan di rest area jalan tol sangat mahal. Kalaupun harus keluar tol dulu, belum tentu lebih menguntungkan bagi mereka.
Alih-alih membawa bekal makanan untuk dimakan di sepanjang jalan tol, sopir truk lebih memilih menjauhinya. Diimbuhi lagi, lokasi tempat singgah juga teramat jauh dari lokasi tujuan.
3. Polisi dan Petugas Jalan Tol Sangat Ketat
Berhenti di pinggir jalan tol secara sembarangan tanpa banyak aturan tentulah sangat menyulitkan bagi truk. Apalagi, truk tua yang butuh penanganan tersendiri. Di sisi lain, ketegasan Polisi lalu lintas maupun petugas tol sangatlah tak bisa diremehkan.
Begitu pula, truk yang berat maupun punya dimensi melebihi batas maksimal bakal menghindari jalan tol. Daripada terkena tilang. Intinya, bagi sopir truk berurusan di jalan tol lebih rumit ketimbang di nontol.
Sebagian mereka juga sadar bahwa terkadang truk ukuran besar berjalan lambat sehingga membuat arus lalu lintas jalan tol jadi padat merayap.
Aturan yang memberatkan mereka lainnya ialah ada batas waktu Transit di rest area yang ditentukan oleh pengelola jalan tol. Di mana, ketika durasi transit di dalam tol melampaui batas waktu, dapat berakibat kartu e-toll non aktif.
Guna mengaktifkan kembali kartu e-toll, pengguna harus menemui petugas tol di gerbang. Tentunya, hal tersebut cukup mengganggu. Bukan hanya bagi pengemudi yang tiba-tiba kartu e-toll non aktif, tetapi juga pengguna tol lainnya.
4. Di Jalur Pantura Bisa Mencuci dan Mengganti Ban Sesuka Hati
Menjaga kebersihan dengan mencuci truk merupakan salah satu kewajiban bagi sopir yang membawa armadanya. Begitu pula, merawat suku cadang kendaraan. Salah satunya yaitu ban. Selain mengisi angin ban, terkadang mesti melakukan pergantian ban.
Sayangnya, tidak semua rest area di jalan tol yang menyediakan jasa perawatan kendaraan tersebut. Baik itu sekadar mengisi angin ban maupun melakukan perbaikan ringan kendaraan.
5. Ketersediaan Bahan Bakar Solar Subsidi di Jalan Tol yang Terbatas
Tidak semua rest area jalan tol yang menyediakan solar subsidi. Walau menjual jenis solar "busuk" tersebut, nyatanya penjualan dibatasi. Bahkan, barangkali sudah habis sehingga harus menunggu dulu agar ketersediaan solar terpenuhi.
(*)
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "5 Alasan Truk Lebih Memilih Lewat Pantura Ketimbang Jalan Tol"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di Dolanku.com